Beranda Uncategorized Kota Metro menjadi model percontohan dari penerapan Audit sosial dan identifikasi

Kota Metro menjadi model percontohan dari penerapan Audit sosial dan identifikasi

148
0

Metro – Detik33,- Kota Metro menjadi model percontohan dari penerapan Audit sosial dan identifikasi upaya peningkatan kualitas fasilitas air, sanitasi dan kebersihan (Wash).

Dalam hal ini bertujuan menuju layanan puskesmas inklusif.

Hal tersebut diungkapkan, Walikota Metro, Wahdi Siradjuddin, di Aula beringin Hotel Aidia Grende. Jumat (08/03/2022).

Dirinya mengungkapkan, hari ini pemkot bersama Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS), Stichting Nederlance Vrijwilligers (SNV) Indonesia, para OPD Pemerintahan dan UPTD Puskesmas, serta camat sekota Metro mendeklarasikan Wash untuk diterapkan fasilitas kesehatan.

“Kita sudah punya empat pilot project puskesmas, diantaranya di Iringmulyo, Margorejo, Banjarsari, Mulyojati,” ungkap Wahdi.

“Harapannya tentu ini akan diikuti juga oleh puskesmas lain. tentu kita kerja rombongan lagi, kolaborasi tentu dengan koordinasi,” sambungnya.

Dijelaskannya, disini Metro yang akan memulainya dimulai dari deklarasi lima pilar Sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) beberapa waktu lalu.

Menurutnya, hal itu sesuai dengan rancangan pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) kita, yaitu membangun infrastruktur dengan mementingan lingkungan, kemudian menjadikan masyarakat sehat, sejahtera.

“Harapannya kita bersama dalam pembangunan Kota Metro ini menuju penataan ruang dan air yang lebih baik lagi, karena itu penting sekali untuk kehidupan manusia,” jelas dia.

Hal senada diungkapkan oleh ketua SNV Indonesia, Bambang Pujianto. Dirinya mengatakan hal itu menjadi satu catatan penting, karna akan menggunakan metode audit sosial yang terbilang masih baru diterapkan.

“Karena audit sosial ini adalah satu pola baru bagaimana menyertakan masyarakat untuk ikut melakukan audit, dimaba selama ini audit hanya dilakukan oleh struktur vertikal pemerintahan,” ungkapnya.

Dijelaskannya, hal tersebut baru di lakukan di dua kota di Lampung, salah satu diantaranya Kota Metro.

“Kita coba baru di kota Bandarlampung dan Metro sebagai model auditnya yang menyertakan kelompok kelompok masyarakat,” jelasnya.

“Termasuk yang paling penting, dimana kita berupaya menuju layanan kesehatan yang inklusif itu targetnya adalah kelompok kelompok disabilitas, sehingga mereka dapat memberikan saran sesuai kebutuhan mereka,” sambungnya.

Diharapkan dari proses ini, lanjutnya, akan ada kerjasama yang baik antara masyarakat sebagai user penerima layanan dan pemberi pelayanan kesehatan.

“Hal ini dilakukan agar tidak lagi terlihat ada jurang antara yang memberi dan menerima layanan,” ujarnya

Dirinya mengaku bahwa saat ini sedang fokus pada kebersihan air dan sanitasi. dimana hal itu merupakan faktor yang menentukan kesehatan serta menunjang kesehatan juga.

“Untuk masyarakat Metro secara umum terkait sanitasi saya katakan sudah cukup baik, kemarin kita sudah deklarasikan lima pilar STBM, artinya dari indikator lima itu semuanya sudah memenuhi,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here